LIVO, JAKARTA – Bagi penggemar olahraga seperti lari, gym, padel, yoga, atau pound fit, keringat yang mengucur deras kerap dianggap hal biasa.
Namun, bagi sebagian orang, produksi keringat berlebihan justru menimbulkan rasa tidak nyaman dan bahkan malu bersosialisasi.
Kondisi ini bisa jadi merupakan tanda hiperhidrosis, gangguan yang menyebabkan keringat keluar secara berlebihan, bukan sekadar efek olahraga.
Mereka yang mengalaminya sering merasa tak percaya diri memakai pakaian berwarna terang, karena noda keringat terlihat jelas dan dapat merusak bahan, terutama sutera.
Keringat Normal vs Keringat Berlebih
Keringat normal umumnya bening atau sedikit kekuningan, berbau ringan, dan terasa sedikit asin karena kandungan garamnya.
Sebaliknya, keringat berlebih muncul bahkan saat cuaca tidak panas atau setelah beristirahat dari aktivitas fisik, ditandai pakaian cepat basah dan kulit lembap terus-menerus.
Faktor penyebabnya bisa genetik atau medis, termasuk diabetes, gangguan jantung, hingga efek samping obat tertentu.
Solusi Tepat Mengatasi Keringat Berlebih
Founder Beauty Sister Clinic, Dr. Elizabeth Liza, M., Bio AAM, menekankan penggunaan deodorant tidak cukup untuk mengatasi keringat berlebih.
“Deodorant berfungsi menghilangkan bau, bukan menekan produksi keringat. Malah bisa memicu iritasi dan membuat ketiak lebih gelap,” kata Dr. Liza saat ditemui di Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (19/8/2025).
Beberapa terapi alternatif yang kini populer antara lain botox dan laser treatment.
Botox bekerja dengan menyuntikkan zat tertentu untuk menghambat kelenjar keringat, namun efeknya bersifat jangka pendek dan dapat menimbulkan rasa nyeri serta bengkak di area suntikan.
Sementara terapi laser menggunakan Morpheus8, teknologi premium yang menggabungkan microneedling dan Radio Frequency Assisted Lipolysis (RFAL) yang disetujui FDA.
Treatment ini mengecilkan pori keringat, mengurangi produksi keringat jangka panjang, serta bersifat minimal invasif.


Tinggalkan Balasan