Olahraga ekstrem dan mendaki gunung semakin digemari anak muda. Namun, risiko cedera tinggi jika persiapan tidak matang. Simak penjelasan dokter olahraga dari UI tentang pencegahan cedera.

LIVOMEDIA.ID – Fenomena olahraga ekstrem hingga pendakian gunung tengah menjadi tren di kalangan masyarakat, terutama anak muda.

Aktivitas ini dianggap sebagai gaya hidup sehat sekaligus cara menantang diri.

Namun, di balik popularitasnya, risiko cedera hingga masalah medis mendadak masih sering mengintai.

Dokter Subspesialis Kedokteran Olahraga Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), sekaligus Sekretaris Program Studi Spesialis Ilmu Kedokteran Olahraga FKUI, Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO., Subsp.APK(K), MARS, menegaskan kurangnya persiapan menjadi penyebab utama cedera.

“Persiapan itu macam-macam. Ada yang harus disesuaikan dengan kondisi tubuh kita, ada juga yang disesuaikan dengan medan. Biasanya ada yang tidak pas,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (11/9/2025).

Faktor Risiko Cedera: Internal, Eksternal, dan Pemicu

Dr. Listya menjelaskan, cedera umumnya tidak muncul dari satu faktor saja. Terdapat tiga elemen yang saling berinteraksi, yakni:

Faktor internal: kondisi tubuh yang belum fit atau riwayat penyakit tersembunyi.

Faktor eksternal: cuaca, jalur pendakian, hingga fasilitas penunjang yang kurang memadai.

Inciting event: aktivitas pemicu, seperti olahraga intensitas tinggi atau mendaki gunung.

“Dalam cedera itu ada faktor risiko internal, eksternal, dan inciting event. Semuanya beradu jadi satu,” jelasnya.

Alat Proteksi, Bukan Sekadar Atribut

Sayangnya, masih banyak orang menyepelekan fungsi perlengkapan pelindung diri saat berolahraga.

Padahal, penggunaan deker, pelindung lutut, atau peralatan khusus bukan hanya aksesori tambahan, melainkan bagian penting dari pencegahan cedera.

Dr. Listya mengibaratkan penggunaan proteksi olahraga seperti helm ketika berkendara motor.

Walaupun sudah terampil, risiko musibah tetap ada. Dengan perlindungan yang tepat, tubuh lebih siap menghadapi situasi darurat.

Hindari FOMO, Utamakan Kesiapan Diri

Tren olahraga sering memunculkan fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Banyak orang terburu-buru mencoba tantangan baru tanpa mengecek kesiapan fisik, sehingga risiko cedera semakin besar.

“Ketika kita melakukan sesuatu hari ini, harus lebih baik dari kemarin. Tolok ukurnya diri kita, bukan orang lain,” tegas Dr. Listya.

Olahraga untuk Kesehatan, Bukan Tren Sementara

Menurutnya, kunci terpenting adalah kejujuran pada diri sendiri.

Bila tubuh belum siap, lebih baik menunda dan melakukan persiapan bertahap, seperti latihan penguatan otot, adaptasi dengan medan, serta pemeriksaan kesehatan.

Alih-alih mengejar pencapaian instan atau mengikuti tren, tujuan utama olahraga seharusnya menjaga keberlanjutan kesehatan.

Dengan persiapan matang, perlindungan yang memadai, dan kesadaran penuh terhadap kondisi tubuh, olahraga ekstrem maupun rekreasi dapat dijalani lebih aman sekaligus membawa manfaat jangka panjang.

Luna Prisylla
Editor