Banyak orang tua keliru mengira gumoh atau diare pada bayi sebagai alergi makanan. Simak penjelasan dokter anak IDAI untuk mengenali tanda-tanda alergi yang sebenarnya.
LIVOMEDIA.ID – Tak sedikit orang tua yang kebingungan saat melihat bayi mereka mengalami gumoh, kolik, atau diare ringan.
Banyak yang langsung mengira hal tersebut sebagai tanda alergi makanan, padahal belum tentu.
Menurut Dr. Endah Citraresmi, SpA (K), Subspesialis Alergi Imunologi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kesalahan dalam menafsirkan gejala ini sering berujung pada overdiagnosis atau salah label alergi.
Akibatnya, bayi dan ibu menjalani pembatasan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan.
“Gumoh dan kolik sering disalahartikan sebagai alergi, padahal sebagian besar merupakan kondisi fisiologis akibat saluran cerna bayi yang belum matang,” jelas dr. Endah dalam seminar virtual IDAI pada Rabu (17/9/2025).
Gumoh dan Kolik Bukan Selalu Alergi
Gumoh, misalnya, terjadi pada sekitar 50% bayi usia 0–3 bulan dan umumnya membaik setelah bayi berusia 12 hingga 14 bulan.
Ini adalah hal yang normal dan tidak berbahaya.
Namun, bila gumoh terjadi secara berlebihan hingga menyebabkan bayi sulit naik berat badan atau sering mengalami infeksi saluran napas, barulah perlu dicurigai sebagai GERD (gastroesophageal reflux disease) atau kemungkinan alergi makanan.
Waspadai Diare Berkepanjangan
Diare juga sering disangka akibat alergi, padahal penyebab paling umum adalah infeksi virus yang biasanya sembuh dalam 5 hingga 7 hari.
Dokter Endah menegaskan, alergi makanan patut dicurigai hanya jika diare berlangsung lebih dari dua minggu, disertai penurunan berat badan, atau muncul setelah pengenalan susu formula.
Dampak Salah Diagnosis Alergi
Salah mendiagnosis alergi makanan dapat berdampak serius pada tumbuh kembang bayi.
Pembatasan diet yang tidak perlu bisa menyebabkan bayi kekurangan nutrisi, dan ibu mengalami stres karena kebingungan memilih makanan.
“Jika makanan ibu terlalu dibatasi, produksi ASI bisa menurun. Bayi pun tidak mendapatkan asupan optimal, dan berat badannya bisa stagnan,” terang dr. Endah.
Pentingnya Evaluasi Medis yang Tepat
Untuk menghindari kesalahan diagnosis, orang tua disarankan tidak langsung menarik kesimpulan sendiri.
Evaluasi oleh tenaga medis profesional sangat penting untuk memastikan apakah gejala yang muncul benar-benar alergi makanan atau hanya bagian dari perkembangan normal bayi.


Tinggalkan Balasan