Pengendali baru PT Menn Teknologi Indonesia Tbk (MENN) resmi memulai Mandatory Tender Offer setelah mendapat restu OJK. Saham MENN melonjak 26% dan dua hari berturut-turut terkena auto reject atas (ARA).

LIVOMEDIA.ID – PT Menn Teknologi Indonesia Tbk (MENN) resmi memulai pelaksanaan Mandatory Tender Offer (MTO) setelah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Corporate Secretary MENN, Edrick Pramana, menegaskan aksi korporasi ini sudah sah dan sesuai regulasi.

“Pelaksanaan Mandatory Tender Offer ini benar dan sudah mendapat persetujuan OJK,” kata Edrick dalam keterbukaan informasi, Rabu (27/8/2025).

MTO ini dijalankan oleh pengendali baru Perseroan, yaitu PT Penajam Makmur Jaya, PT Kalimantan Sejahtera Indonesia, PT Sarjana Sama Indah, PT Kalimantan Indah Kedepan, PT Negara Maju Makmur, dan PT Sarana Majemuk Indonesia, dengan PT BRI Danareksa Sekuritas sebagai perusahaan efek yang ditunjuk.

Adapun jumlah saham yang ditawarkan mencapai 687.314.206 lembar saham atau setara 47,93% dari total saham ditempatkan dan disetor penuh.

Harga yang ditetapkan sebesar Rp44 per lembar saham, dengan periode penawaran 20 Agustus sampai 20 September 2025.

Edrick mengingatkan seluruh pemegang saham MENN untuk selalu merujuk pada keterbukaan informasi terbaru.

“Untuk pembaruan jadwal, jumlah saham, dan persentase saham yang sudah disetujui OJK,” jelasnya.

Langkah ini menjadi strategi pengendali baru untuk memperkuat kepemilikan sekaligus posisi di MENN.

Sentimen positif MTO langsung tercermin pada pergerakan saham, di mana dalam sepekan terakhir harga saham MENN sudah naik 26% dan dua hari berturut-turut terkena auto reject atas (ARA) hingga berita ini ditulis.

Sebelumnya, dalam keterbukaan informasi Maret 2025, Direktur Utama MENN Michael H Mulyanto, BSC.MBA, menjelaskan pengendali baru membawa visi dan misi segar di sektor teknologi informasi.

Mereka berencana mengembangkan bisnis ke segmen Business to Business (B2B) dengan fokus pada teknologi kemaritiman, pertambangan, data center server, dan developer IT.

“Pertimbangan yang melatarbelakangi pelepasan kepemilikan pemegang saham lama adalah pengembangan yang bagus untuk Perseroan ke depannya dengan visi misi pengendali baru. Perubahan pengendali dikarenakan pengendali baru akan melakukan investasi terhadap Perseroan,” ujar Michael.

Selain perubahan pengendali, Michael juga menyebut adanya kemungkinan penyegaran manajemen, baik di jajaran direksi maupun komisaris, agar sejalan dengan visi jangka panjang pemegang saham baru.