The Fed turunkan suku bunga 25 bps ke level 4,00–4,25%. Jerome Powell sebut langkah ini sebagai strategi manajemen risiko, dengan sinyal dua pemangkasan tambahan pada 2025.

LIVOMEDIA.ID – Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 4,00–4,25%.

Keputusan ini diumumkan pada Rabu waktu setempat atau Kamis dini hari (18/9/2025) waktu Indonesia.

Langkah tersebut menjadi pemangkasan pertama sepanjang 2025 setelah The Fed menahan suku bunga dalam lima pertemuan berturut-turut.

Terakhir kali pemangkasan dilakukan pada Desember 2024 melalui rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

The Fed juga memberi sinyal kemungkinan dua kali pemangkasan tambahan dalam sisa tahun ini, tepatnya pada pertemuan Oktober dan Desember mendatang.

Alasan Pemangkasan Suku Bunga

Dalam pernyataan resminya, The Fed menilai aktivitas ekonomi AS mulai melambat pada paruh pertama 2025. Pertumbuhan lapangan kerja menurun, tingkat pengangguran naik tipis ke 4,3% pada Agustus, meski masih tergolong rendah secara historis.

Inflasi juga meningkat dan masih berada di level cukup tinggi.

“Untuk mendukung tujuannya dan dengan mempertimbangkan perubahan keseimbangan risiko, Komite memutuskan untuk menurunkan kisaran target suku bunga federal funds sebesar 1/4 poin persentase (25 bps) menjadi 4,00-4,25%,” tulis The Fed dalam keterangan resminya.

Komite menegaskan akan menyesuaikan kebijakan moneter bila diperlukan, dengan mempertimbangkan data ketenagakerjaan, inflasi, serta perkembangan ekonomi global.

Perdebatan di Internal FOMC

Keputusan ini diambil melalui voting dengan hasil 11 banding 1.

Satu suara berbeda datang dari Gubernur baru, Stephen Miran, yang menginginkan pemangkasan lebih agresif sebesar 50 bps.

Menariknya, Michelle Bowman dan Christopher Waller, yang sebelumnya diprediksi menolak, justru mendukung pemangkasan 25 bps.

Ketiganya merupakan pejabat yang diangkat Presiden AS Donald Trump, yang sejak awal tahun mendesak agar Fed menurunkan suku bunga lebih cepat.

Pernyataan Jerome Powell

Dalam konferensi pers usai rapat, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa keputusan ini bukan karena ekonomi sedang jatuh, melainkan langkah preventif untuk mengurangi risiko perlambatan lebih dalam.

“Pelemahan yang jelas, baik dalam pasokan maupun permintaan tenaga kerja, merupakan hal yang tidak biasa di pasar kerja yang kini kurang dinamis. Down side risk terhadap pekerjaan tampaknya meningkat,” ujar Powell.

Ia menambahkan, pemangkasan ini menempatkan kebijakan moneter dalam posisi lebih “netral” setelah sebelumnya dianggap cukup ketat.

Powell juga menekankan, keputusan ini merupakan strategi manajemen risiko, bukan karena krisis ekonomi sudah terjadi.

“Anda bisa menganggap ini (pemangkasan) sebagai pemangkasan suku bunga untuk manajemen risiko. Tidak ada jalur yang bebas risiko saat ini. Tidak jelas apa yang paling tepat dilakukan,” ucap Powell.

Tantangan Ekonomi AS

Meskipun konsumsi rumah tangga tercatat masih solid, pasar tenaga kerja tetap menjadi titik rawan.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja bahkan merevisi laporan sebelumnya, dengan catatan hampir satu juta pekerjaan lebih sedikit tercipta sepanjang 12 bulan hingga Maret 2025.

Selain itu, Powell juga memperingatkan risiko inflasi yang bisa terdorong oleh kebijakan tarif impor pemerintahan Trump.

Menurutnya, dampak tarif baru kemungkinan besar akan terasa sepanjang sisa 2025 hingga tahun depan.

Luna Prisylla
Editor